7/20/2015

Laporan dan Rekomendasi: Lebaran dan Kopi

Single original mandailing tanpa ampas yang kupesan benar-benar menjadi sebuah kecelakaan. Ekpektasi terhadap secangkir kopi seharga Rp 35.000,00 seketika hancur lebur pada “sruputan” pertama. Rasa gosongnya yang kelewat batas melengkapi panasnya kota ini. Tanpa gula, ciri khas kopi arabika yang fruity, menggambarkan rasa buah tertentu, yang harusnya bisa muncul dengan lembut dan hati-hati gagal dicecap, dirusak olek cara penyajian yang sembrono dari sang barista. Hanya rasa pahit terbakar dan panas air berlebihan yang terasa dan menemaniku dalam acara minum kopi siang ini.

Lebaran tahun 2015 adalah lebaran sunyi kesekian kali yang hadir di kehidupanku yang sudah 22 tahun berlalu. Sekaleng Serena Egg Roll dan Khong Guan Bikcuit yang coba disajikan di meja ruang tamu agaknya masih jauh untuk memenuhi angan-anganku tentang romantisme lebaran 5-10 tahun lalu. Penolakanku terhadap hadirnya opor dan sambal goreng, yang kemudian aku menyesalinya, agaknya menjadi faktor yang signifikan menambah kesunyian lebaran tahun ini. Libur lebaran hanya kuhabiskan dengan berkeliling kota, menikmati kesenangan-kesenangan artifisal yang sebenarnya jauh dari kebutuhan. Menonton empat film dalam lima hari dan membeli setumpuk buku promo adalah bentuk konsumsi tanpa kebutuhan tersebut.

Kedai kopi mendadak ramai di musim liburan ini. Semuanya orang di kota ini berhak dan merasa mampu untuk menduduki tempat-tempat yang memajang nama kopi di depannya, kalau bukan karena terpaska. Secara ajaib kedai kopi yang sering kutemui hanya diisi oleh beberapa orang itu-itu saja menjadi ramai. Tiga puluh kursi yang ada di dalam coffe shop ini penuh. Beberapa berjalan bersama keluarga, melihat-lihat dan memesan menu yang tak ada hubungannya dengan kopi, lainnya pergi ke sana untuk memuaskan hasrat hedonis yang sekian lama terpendam, sekedar makan di sini karena tempat makan lain sudah full booked.

Lebaran yang makin ke sini makin terasa sepi adalah bentuk degradasi makna akibat hilangnya instrumen-instrumen kunci dalam lebaran itu sendiri. Keluarga besar yang membentuk struktur keramaian unik dalam lebaran gagal hadir ketika individu-individu di dalamanya semakin bertambah tua, beberapa bahkan mati. Sosok sentral sebagai pemersatu dan penghadir makna ini satu-persatu berpulang ke hadapan Tuhan. Di sisi lain, tokoh-tokoh yang lebih muda belum mampu menjadi patron dalam mempersatukan keluarga besar ini.

Begitu juga kopi. Pemaknaan agung atasnya yang ada sejak 2 milenium silam kini memudar seiring komodifikasi terhadapnya. Kopi yang tadinya hanya dinikmati oleh kelas borjuis dan bangsawan kini bisa dinikmati juga oleh kelas proletar yang sedemikian banyaknya itu. Kegagalan presentasi rasa unik pada berbagai jenis kopi sungguh mungkin terjadi karena perubahan paradigma barista menjadi sekedar server. Kopi yang seharusnya disajikan oleh orang yang mengerti teknik-tekni dan filosofi di dalamnya kini bisa saja disajikan oleh seorang yang 3 jam lalu masih menjadi calon pekerja di kedai kopi. Menjadi hal yang lazim kemudian ketika coffe shop di kota ini gagap dalam memenuhi permintaan konsumen terhadap kopi dengan teknik penyajian tertentu.

Kekosongan makan ini menjadikan Idul Fitri sebagai lebaran harus dimaknai kembali agar kemudian tidak sekerdar menjadi hari libur nasional saja, seperti hari buruh misal. Individu-individu yang menjadi dewasa ini sudah seharusnya mendorong munculnya tokoh-tokoh baru sebagau figur permersatu dan pemberi makna berlebaran. Sudah seharusnya generasiku, generasi 90-an untuk beranak pinak, merubah poros pemaknaan lebaran daru kakek-nenek ke ayah-ibu mereka. Jangan sekedar melongo meratapi sepinya lebaran.

Bagi penikmat kopi yang jauh dari kota perantauan hendaknya jangan terlalu ambil pusing dengan rasa-rasa kopi di kota kelahiran. Diperlukan waktu berminggu-minggu untuk menemukan kedai kopi yang cocok di tanah perantauan. Berharap menemukan kedai kopi yang sama hanya dalam lima hari liburan adalah sebuah tindakan takabur, kecuali ada mukjizat, atau terdapat keinginan untuk membukanya sendiri.