7/06/2015

Go-Jek dan Hambatan Pacaran Jarak Jauh

Ketika kamu tak bisa mengantar kekasihmu yang jauh di sana untuk pergi belanja dan Go-Jek melakukannya untukmu, bagaimana coba perasaanmu? Barangkali dongkol atau malah bersyukur. Barangkali merasa terbantu atau malah jadi tidak berdaya. Bisa saja marah-marah atau cuma terdiam, mojok, kemudian mewek.

Akhir ini beberapa media online memberitakan mengenai Go-Jek, sebuah aplikasi pencarian ojek yang terintergerasi, yang sempat ribut dengan tukang-tukang ojek pangkalan. Sebagian tukan ojek pangkalan merasa penumpangnya diserobot oleh Go-Jek yang cuma mengandalkan jempol penggunanya. Tukang ojek dengan seragam Go-Jek dihadang dan dilarang narik. Wes pokoknya semrawut.

Sesaat kemudian muncul tulisan-tulisan yang menganalisa fenomena Go-Jek secara lebih mendalam. Beberapa yang saya baca, kebetulan membahasnya dari persepektif ekonomi. Nosa Normanda misal, ia berkata kalau sistem bisnis kapitalistik Go-Jek berangsur dan pasti menggusur sistem komunal yang ada di pangkalan ojek selama ini. Arah ke depannya, persaingan bukan lagi antar pangkalan, tapi menjadi persaingan antar perusahaan-perusahaan semacam Go-Jek yang sudah menerapkan metode dan prinsip modern dalam berbisnis. Dari kacamata ini memang tak akan ada habisnya kalau dibahas, karena ini menyangkut perut masing-masing tukang ojek dan hasrat akumulasi kapital para pebisnis.


Tapi tentang hati, apakah ada di antara kalian yang turut memikirkan? Begitu banyak pasangan, yang berpacaran jarak jauh, dan empot-empotan mempertahankan hubungannya menjadi sangat vulnerable akibat kehadiran gojek. Mereka yang hanya bisa berkata hati-hati lewat pesan singkat saat sang pacar berangkat kuliah atau kerja, kini harus menghadapi kenyataan yang lebih pahit ketika tahu bahwa Go-Jek mampu memberikan apa yang tidak bisa mereka berikan. Kata-kata seperti, “Aku pergi sama Go-Jek aja deh, kamu payah ga bisa nganterin aku” akan semakin sering muncul di jendela percakapan pasangan-pasangan LDR tersebut.

Jika ini terus dibiarkan dan tidak diberi aturan yang membatasi penggunaannya, tidak menutup kemungkinan akan semakin menambah populasi jomblo yang sudah sangat banyak itu. Peluang-peluang mempertahankan hubungan jadi semakin kecil, dilibas habis oleh monopoli gojek yang tinggal usap jempol maka datang. Ucapan-ucapan mesra dan sok ada di sisi setiap pagi dan sore hari tak akan pernah ada lagi. Pujangga akan hilang kehabisan kata-kata. Perempuan-perempuan akan menjadi semakin sadar dan pragmatis, bahwa Go-Jek lebih punya prospek dari pacar-pacar mereka yang jauh itu.