6/16/2015

OSMB dan IPK yang Musti Tiga

Orientasi Studi Mahasiswa Baru adalah ajang tahunan yang digelar oleh kampus-kampus setiap awal masa studi. Berbagai acara diselenggarakan, mulai dari sekedar pengenalan lingkungan kampus sampai acara bentak-bentak perplocoan sebagai bumbu pemanisnya. Tak jarang, acara rutin ini dijadikan ajang pencarian pacar oleh senior-senior. Berburu sesama panitia hingga adek kelas [1].

Di Fakultas Biologi Unsoed, kegiatan ini selalu menarik perhatian dan cibiran di kalangan civitas akademika. Banyak pro dan kontra yang terjadi terkait penyelenggaran OSMB. Salah satu pembicaraan paling hangat adalah mengenai syarat kepanitiaan yang mengharuskan transkrip dengan IPK lebih dari sama dengan 3,00. Syarat ini seketika menjadikan OSMB bahan pembicaraan di kampus dan (seringnya) media sosial. Meminjam istilah yang dipakai Rasjid [2], bahwa demokrasi akan selalu berisik. Keributan-keributan tersebut tidak terlepas dari keterbukaan informasi dan jalur aspirasi yang ada [3], termasuk dalam proses penyelenggaraan OSMB tahun ini.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita samakan pemahaman kita tentang OSMB. Belajar dari keributan di media sosial (lihat ini), maka aku putuskan dengan semena-mena untuk menyeragamkan pemahaman ini menurutku saja, atau setidaknya Cuma menurut referensi yang ada padaku. Tak ada ruang demokrasi di sini, demokrasi telah mati [4].

OSMB atau Orientasi Studi Mahasiswa Baru adalah kegiatan tahunan untuk mengenalkan mahasiswa terhadap lingkungan barunya, terutama lingkungan civitas akademika [5]. Kegiatan ini awalnya diselenggarakan oleh institusi pendidikan tanpa melibatkan siswa (atau mahasiswa) dalam pelaksanaanya. Tidak adanya peran peserta didik tersebut dikarenakan konten OSMB hampir seluruhnya berisi mengenai studi. Adapun keterlibatan peserta didik sebatas sebagai pengisi acara (konten) saja [6]. Konten di sini seperti ragam kegiatan ekstrakulikuler yang ada, tentunya memerlukan mahasiswa sebagai peserta kegiatan tersebut, sebagai alat peraga.

Paradigma OSMB di atas bergeser seiring meningkatnya kesadaran politik mahasiswa di akhir awal 90-an. Kegiatan-kegiatan OSMB dijadikan sebagai tahap awal penyadaran politik oleh panitia mahasiswa yang terlibat [5]. Konten-konten OSMB mulai disisipi oleh materi-materi tentang perjuangan politik. Politik kampus, sebagai sebuah kesadaran baru merebak cepat di kalangan mahasiswa generasi 90-an [6]. OSMB yang tadinya sekedar tur ke kelas-kelas dan pertunjukan dari unit-unit kegiatan mahasiswa berubah menjadi ajang bentak-bentak dengan dalih membentuk kesadaran politikin dan kemapanan mental. Saat itu tentu kebutuhannya jelas bahwa mahasiswa menye-menye tidak akan mampu bergerak untuk melawan rezim yang semakin otoriter. Sampai sekarang, model OSMB yang seperti ini masih dianggap paling relevan oleh aktivis-aktivis kampus.

Pasca 1998, aktivitas politik di kampus semakin menguat. Pemerintah yang melihat gelagat (yang mereka anggap) kurang sehat dari kegiatan-kegiatan di kampus akhirnya menggalakan lagi implementasi SK menteri P&K No.037/U/1979 tentang NKK/BKK [7]. Semua kegiatan berbau politik di kampus dinyatakan (kembali) dilarang. Tidak boleh lagi ada agenda-agenda politik yang diselenggarakan di kampus-kampus. Sekedar informasi, NKK/BKK dibuat pasca peristiwa malari, yang isinya menginstruksikan mahasiswa kembali ke kampus dan berkegiatan sesuai minat dan bakat. Sayangnya, meski agenda-agenda tersebut sudah dilarang, pola-pola OSMB yang dibentuk bertahun-tahun oleh aktivis-aktivis mahasiswa tersebut masih bertahan hingga sekarang. Terlepas dari kepentingan-kepentingan politik, pola-pola tersebut kemudian menjadi ritual-ritual tanpa tujuan, bahkan hampir dikultuskan atas nama membentuk mahasiswa yang berkarakter, dan bla-bla-bla [6].

Mari kita tarik sejarah yang sudah diterngkan di atas ke era sekarang. Kegaduhan yang terjadi terkait OSMB di Fakultas Biologi Unsoed terjadi karena opini-opini yang menganggap kegiatan OSMB tidak lagi memuat kepentingan mahasiswa. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, “Kepentingan macam apa yang sebenarnya gagal diakomodir oleh birokrasi kampus terkait OSMB?”. Aku akan coba menjawab pertanyaan tersebut. Sekali lagi, tidak ada ruang demokrasi di sini. Semua yang kutulis adalah pandangan-pandanganku, atau setidak-tidaknya menurut referensi yang kubaca.

Menilik sejarah yang lumayan panjang mengenai OSMB, kepentingan terbesar panitia mahasiswa adalah mengenalkan (menyusupkan) ide-ide (ideologi) kepada mahasiswa baru. Ide-ide pengorganisiran dan gerakan massa hampir seluruhnya berdasar pada ajaran Marxisme-Leninisme yang notabene dilarang keras untuk diajarkan secara terbuka di zaman tersebut [7]. OSMB dianggap sebagau Bahtera Nuh untuk mengantarkan ajaran tersebut. Barangkali ada di antara kita yang menolak untuk percaya, maka dari itu aku perlu untuk memberikan beberapa contoh:

1. Persatuan. Hampir kita semua yang pernah mengalami OSMB pasti mendengar kata-kata itu. Bahwa kita adalah satu atau semacamnya. Coba bandingkan dengan omongan Tan Malaka [8] mengenai aksi-aksi masa yang mensyaratkan persatuan.

2. Agen Perubahan. Ini juga yang paling sering didengar, bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Lenin [9] menyebutnya sebagai agen-agen revolusi. Mahasiswa dipilih karena mereka kebanyakan adalah kelas menengah. Kelas yang memiliki peluang kesadaran cukup besar, dibanding kelas proletar yang akan selalu sibuk dengan urusan perut mereka.
Tadi tadi baru sedikit saja contoh. Para pembaca budiman tentu dapat menemukan banyak yang lain tanpa harus kusebutkan semua.

Sekarang, ketika OSMB kembali ditarik untuk kepentingan kampus (birokrasi), para mahasiswa yang merasa berkepentingan menjadi resah karena aturan-aturan yang menghambat kepentingan mereka. IPK minimal 3,00, misal. Berbagai bentuk perlawanan dilancarkan untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi. Aksi-aksi masa (medsos) dan mimbar-mimbar bebas (di medsos, lagi-lagi) diselenggarakan untuk mencegah membesarnya porsi kepentingan kampus dalam OSMB.

Apakah usaha-usaha tersebut berhasil? Sampai sekarang tentu aku bisa berkata tidak. Birokrasi akan selalu bergeming dengan kebenaran yang mereka miliki. Kegamangan tujuan inilah yang menghambat keberhasilan aktivis kampus dalam merebut gelanggang OSMB untuk kepentingan mereka, karena mereka semua (barangkali termasuk aku) tak punya kepentingan yang jelas. Masih terjebak dalam jargon-jargon normatif seperti softskill, partisipasi, kreatifitas, dan lain-lain. Sementara di sisi lain, tujuan institusi kampus sangatlah jelas, untuk akreditasi misal. Pergerakan tanpa tujuan akan menghasilkan kesia-sian [10].

Di sisi lain, misal pengandaian pertamaku di atas salah, berarti ada hal yang lebih serius lagi. Kalau ternyata aktivis kampus sudah memiliki tujuan yang jelas (yang mungkin karena kekuperanku aku jadi tidak tahu) berarti mereka sedang menghadapi kemandekan, kegagalan untuk mengembangkan metode pengorganisiran hingga harus bertumpu pada OSMB dari tahun ke tahun. Harusnya setelah lebih dari tiga dekade sejak era dimana misi-misi atau tujuan politik mendompleng kegiatan kampus, mereka sudah berhasil mendapat metode baru yang lebih efisien dari pada OSMB.

Lain lagi kalau kita mau melihatnya dari sisi yang lebih “pop”. OSMB sebagai ajang gaya-gayaan sehingga semua yang ingin perlu ikut serta untuk bisa bergaya di depan adek-adek (unyu) angkatan. Perkara softskill dan lain-lain kurasa bisa didapat bagaimanapun caranya saat mereka adek-adek ini sudah jadi mahasiswa kelak. Pengandaian yang ini tentu sudah sangat berbau posmo dan sama sekali terlepas dari kondisi objektif yang ada. Kita bisa mencari pembenarannya belakangan. Persetan dengan kepentingan kampus. Tak perlu satupun kepentingan mereka yang perlu diakomodir. Karena ini acara kita, bukan mereka.

Konkritnya, aku mengusulkan untuk kita bersama-sama membuat OSMB tandingan. Syarat utamanya jelas, IPK tidak boleh lebih dari 3,00. Dan karena aku termasuk golongan itu, kupastikan aku yang pertama ikut mendaftar.

Pustaka:
Wirawan, Beny. "Hubungan Persepsi Mahasiswa Baru tentang Program Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) dengan Kedisiplinan." SKRIPSI Jurusan Administrasi Pendidikan-Fakultas Ilmu Pendidikan UNPAD. (2014).

Aziz, Rasjid. Demokrasi dan Kegaduhan Publik. Lp3es, 1996.

Prabowo, Tony. "Peranserta Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Perundangan." Makalah pada Seminar Partisipasi Masyarakat dan Keterbukaan Informasi. Jakarta. 1999.

Domba, Zaenal Abidin. "Demokrasi dan Khilafah Indonesia." Jurnal Sosioteknologi 8.17 (2009): 601-620.

Armanto, Yusuf. "Mahasiswa dan Gerakan Kiri Indonesia." Jurnal Indoprogress 8.17 (2012): 601-620.

Gamo, Abdurrahman. "Perploncoan dan Budaya Feodal." Jurnal Indoprogress 8.17 (2012): 621-630.

Suryajaya, Lambert. "Sejarah Pengorganisiran Kampus." Jurnal Indoprogress 8.17 (2012): 401-420.

Malaka, Tan, and A. Yogaswara. Aksi massa. Cedi & Aliansi Press, 2000.

Lenin, Vladimir Ilʹich. Imperialism: The Highest Stage Of Capitalism. Resistance Books, 1999.

Soeharto. Menumpas Gerakan Rakyat. Gramedia Pustaka Utama, 1999.