9/16/2016

Parents Who Drive You Crazy: Four Steps for Handling Emotionally Immature Parents


Do you ever feel like the mature one in your relationship with your parents? If so, you are like countless others who are hurt and frustrated by their emotionally immature parents. It is difficult to deal with parents who have not developed enough empathy to care sufficiently about the feelings of others. These immature parents focus on their own interests to the point where they make their children feel inadequate, unseen, and chronically guilty.

While the emotionally immature parent may act like a normal adult in the outside world, their self-involved and controlling behavior comes out full force at home. They ignore their children’s emotional needs because they are focused on their own consuming desires for attention and control. As a result, their children end up feeling insignificant and emotionally alone.

1/25/2016

Mencintai Kopi dengan Sederhana a’la Kedai Kopikup

Purwokertokita.com – Setelah rehat sekian lama, Kedai Telapak yang ada di Pabuaran kini hadir kembali dengan nama baru, Kedai Kopikup. Kedai ini hadir untuk mengembalikan marwah minum kopi dengan sederhana. Sesederhana kita merelakan kenangan akan mantan. Halah…

“Kopikup itu diambil dari kata coup de etat kopi. Atau pemberontakan kopi,” kata pemilik Kedai Kopikup, Caisar Aditya, saat ditemui Purwokertokita.com, Minggu (27/12).

Gila, pemberontakan kopi. Ngeri amat ya. Caisar menjelaskan, selama ini orang minum kopi menjadi terlalu cantik. Terlalu ribet dan terlalu menjadi gaya hidup yang mahal. Padahal, kata dia, awalnya minum kopi adalah kegiatan sederhana yang hanya membutuhkan keikhlasan peminumnya. Dulu orang minum kopi dengan gelas blimbing atau gelas tembaga. “Tidak perlu dicantikkan. Ini harus diluruskan kembali,” ujar Caisar sambil mengepalkan tangan kiri.

10/21/2015

Menjelang Pagi

Hari berlalu saat orang-orang menganggapnya usai
Hari menjadi gelap saat orang-orang menanggalkan matahari
Hari berubah sepi saat orang-orang berdiri merenungi beberapa akibat perbuatannya di pagi buta

Saat semua orang lelap
Ketika anak-anak telah berserah pada mimpi
Menjadi angan-angan di tengah malam yang sebenarnya cuma sepertiga hari

Tetiba matahari terbit tanpa memberi tahu
Matahari yang mengawali hari baru, orang-orang menyebutnya pagi
Dijelang oleh sebagian jalang, tapi tak pernah sepenuhnya terengkuh
Karena malam memang sekedar menjelang pagi



Purwokerto, 21 Oktober 2015

7/20/2015

Laporan dan Rekomendasi: Lebaran dan Kopi

Single original mandailing tanpa ampas yang kupesan benar-benar menjadi sebuah kecelakaan. Ekpektasi terhadap secangkir kopi seharga Rp 35.000,00 seketika hancur lebur pada “sruputan” pertama. Rasa gosongnya yang kelewat batas melengkapi panasnya kota ini. Tanpa gula, ciri khas kopi arabika yang fruity, menggambarkan rasa buah tertentu, yang harusnya bisa muncul dengan lembut dan hati-hati gagal dicecap, dirusak olek cara penyajian yang sembrono dari sang barista. Hanya rasa pahit terbakar dan panas air berlebihan yang terasa dan menemaniku dalam acara minum kopi siang ini.

Lebaran tahun 2015 adalah lebaran sunyi kesekian kali yang hadir di kehidupanku yang sudah 22 tahun berlalu. Sekaleng Serena Egg Roll dan Khong Guan Bikcuit yang coba disajikan di meja ruang tamu agaknya masih jauh untuk memenuhi angan-anganku tentang romantisme lebaran 5-10 tahun lalu. Penolakanku terhadap hadirnya opor dan sambal goreng, yang kemudian aku menyesalinya, agaknya menjadi faktor yang signifikan menambah kesunyian lebaran tahun ini. Libur lebaran hanya kuhabiskan dengan berkeliling kota, menikmati kesenangan-kesenangan artifisal yang sebenarnya jauh dari kebutuhan. Menonton empat film dalam lima hari dan membeli setumpuk buku promo adalah bentuk konsumsi tanpa kebutuhan tersebut.